Noren

Noren (暖簾) artinya adalah “tirai atau korden” yang banyak ditemui di Jepang, terutama di pintu masuk tempat-tempat komersil seperti restoran, bar, rumah minum teh, firma hukum, dan lain sebagainya. Noren dibuat untuk menjadi tirai yang menghalau debu, angin, hujan, hawa panas, dan hawa dingin dari memasuki tempat yang telah dipasangi Noren.

Bahan pembuat Noren adalah kain tebal maupun tipis, dan bisa juga terbuat dari kumpulan utas tali yang disusun berjajar. Di Jepang sendiri, banyak toko menggunakan kain berwarna biru untuk norennya. Ukuran noren pun beragam, tidak ada pakem yang mengikat. Biasanya pada permukaan Noren dilukis nama toko atau nama badan usaha yang mempunyai toko tersebut.

Siapa yang pertama kali menggunakan Noren di Jepang, kurang bisa diketahu. Namun, diperkirakan sekitar tahun 1338-1573 saat Shogun Ashikaga berkuasa, Noren pertama kali digunakan. Kemudian pada tahun 1603-1867 pada kekuasaan Shogun Tokugawa, penggunaan Noren meningkat oleh pedagang-pedagang besar, sehingga memudahkan orang-orang untuk mengetahui berbagai macam jenis toko yang ada.

Pada era Gen-roku (1688-1703), Noren pendek menjadi tren. Hanya toko-toko seperti makanan kering, toko gantungan baju, pemandian umum, tukang cukur, apotek yang menggunakan Noren panjang yang dianggap ketinggalan jaman.

Saat itu Noren telah menjadi simbol goodwill (reputasi baik, persahabatan, dan keterbukaan untuk menjalin kerjasama), dan kepemilikan toko bisa berpindah tangan, Norennya tetap sama dan dipertahankan. Pemagang yang telah berdedikasi dan bekerja dengan baik, mempunyai hak untuk memasang Noren yang sama di cabang usaha yang akan dia buka di kemudian hari.

Pada masa ini ada peraturan yang ketat mengatur pembatasan Noren, pembatasan itu diberlakukan untuk beberapa badan usaha / toko.

Contohnya, toko yang menjual kalender dibatasi sejumlah 81 toko, kantor broker dibatasi 600 kantor, dan perizinan untuk buka toko salon khusus samurai dibatasi 600 salon saja. Salon samurai ini tugasnya menata rambut samurai supaya rapi dan mempunyai kuncir yang khas di atas kepalanya bernama chonmage (丁髷).

Samurai dengan chonmage yang khas.
Tukang cukur di Jepang era abad ke-19.

Secara tidak langsung Noren menjadi izin hak paten yang dimiliki oleh sebuah toko / usaha. Paten tersebut dapat diperjualbelikan dan dipindahtangankan, harganya bisa mencapai beberapa ratusan keping emas untuk membelinya.

Satu lagi, ada yang namanya Nawa-Noren, Noren ini adalah Noren yang tersusun dari untaian tali. Pada zaman sekarang banyak ditemui di Tokyo, sebagai penanda bahwa sebuah toko adalah toko yang murah jika menggunakan tirai dari tali ini. Jadi jika kamu berkunjung ke Tokyo dan melihat Nawa-Noren, pasti minuman dan makanan yang dijual di dalamnya murah-murah.

Nawa Noren (tirai dari tali) menandakan sebuah toko / restoran itu menjual dengan harga yang murah.

Lady Kesa-Gozen

“Bunuh aku dengan belati ini, ” ucap seorang ibu bernama Bu Kinugawa kepada anak perempuannya yang sudah menikah bernama Kesa-Gozen, sambil menodongkan gagang belati.

“Bunuh aku sekarang juga, lebih baik aku mati di tanganmu, daripada di tangan orang lain, bunuh aku.”

Kesa-Gozen juga berstatus seorang istri dari Wataru Minamoto ; seorang prajurit penjaga istana. Wajah Kesa-Gozen yang cantik rupawan dianggap tidak pantas menikahi seorang penjaga istana rendahan macam Minamoto, pikir seorang anak broker bernama Morito Endo.

Endo mengunjungi ibu Kesa-Gozen dan mengancamnya untuk menghabisi nyawanya apabila Kesa-Gozen yang sudah bersuami tidak boleh dinikahinya.

“Sudah ibu jangan khawatir, ini sudah menjadi tugasku sebagai seorang anak dan seorang istri untuk melindungi ibu dan suamiku,” ujar Kesa-Gozen.

“Endo, aku akan menuruti permintaanmu (menikahimu) apabila kamu membunuh suamiku yang sekarang terlebih dulu,” ucap Kesa-Gozen dengan tenang.

Kesa-Gozen yakin atas keberingasan Endo bahwa Endo tidak akan mundur jika harus melakukan pembunuhan keji sekalipun. “Endo, datanglah ke kamar kami dan penggal kepala yang memiliki rambut yang basah.”

Kesa-Gozen mencuci rambutnya sebelum tidur malam itu.

Malam itu, Kesa-Gozen menyuguhkan hidangan yang komplit dan amat lezat untuk suaminya, katanya untuk syukuran ibunya karena telah sembuh dari penyakitnya yang menahun. Sehingga malam itu Wataru minum banyak sake dan mabuk, istrinya membantunya untuk ke tempat tidur. Setelah itu, Kesa-Gozen buru-buru mengambil waskom dan membasahi rambutnya dan memotong cepak rambutnya, sebelum merangkak ke tempat tidur, dan tidur agak berjauhan dengan suaminya.

Malam itu, Endo mengendap-endap masuk ke kamar mereka berdua, dan langsung melancarkan niat buruknya. Ia meraba-raba dalam gelap, mencari kepala yang basah rambutnya. Setelah ia memegang rambut yang basah, ia langsung menebas kepala itu tanpa berpikir panjang. Dengan mengangkat kepala yang masih bersimbah darah, Endo syok bukan kepala karena kepala yang ia pegang adalah kepala Kesa-Gozen, wanita yang ditaksirnya mati-matian.

Endo yang kelimpungan, keesokan harinya berkata jujur kepada suami Kesa-Gozen; Wataru Minamoto bahwa dirinya telah membunuh istrinya dan meminta Wataru untuk melampiaskan kemarahannya dengan membunuh Endo di tempat saat itu juga.

Wataru berucap, “Apa yang aku dapat dari membunuhmu, Endo? Istriku telah mati tidak bisa dihidupkan kembali.”

Lalu Wataru menasehati Endo agar membotaki rambutnya sendiri (sebagai praktek menjadi biksu) dan menjadi pendeta Buddha agar dapat mengorbankan dirinya untuk agama Buddha sekaligus mendoakan arwah Kesa-Gozen supaya tenang, karena telah ia bunuh secara salah. Endo kemudian menurut dan menjadi pendeta dengan nama Mongaku.

Pendeta Mongaku ini menjadi penasehat Lord Yoritomo, seorang Shogun pertama, dan dia berkeliling dalam perjalanan spiritualnya (ziarah) ke berbagai provinsi di Jepang dan membuat beberapa kuil yang rusak di Jepang bisa terrestorasi dengan baik. Akhir hidupnya, ia diasingkan ke Pulau Sado di mana dia meninggal karena kelaparan karena dirinya menolak untuk makan.

Itu semua gara-gara pembunuhan yang dilakukannya.

This image has an empty alt attribute; its file name is Kuniyoshi_Yendo_Musha_Morito_holding_Head_Kesa-Gozen.jpg
Endo yang syok dan patah hati.

Cermin Kuno Jepang

Siapa yang menyangka bahwa cermin kuno di Jepang tidak terbuat dari kaca, melainkan terbuat dari perunggu (campuran dari timah dan plumbum/timah hitam). Cermin kuno yang digunakan pada zaman Edo (1615-1868) ini mempunyai ornamen indah di baliknya, dengan tampak depan mengkilat hasil dari polesan timah, sehingga di cermin kuno yang masih tersimpan baik di Jepang, masih bisa digunakan untuk bercermin.

Cermin kuno dengan gagang, memiliki ornamen bunga krisan yang tersebar di sekelilingnya.

Polesan timah yang mengkilat berbentuk cekung masih dapat digunakan untuk melihat pantulan wajah.

Sumber: Kyoto National Museum.

Nona Umeko Ishimoto (Hellen Keller-nya Jepang)

Dengan keterbatasan bisu dan tulinya, Nona Keller bisa menghasilkan lebih banyak karya daripada orang normal pada umumnya.

The Real Hellen Keller.

1880 – 1968.

Nona Umeko lahir di Yokohama, pada tanggal 7 Juli 1874. Perawakannya seperti gadis Jepang pada umumnya. Namun Umeko tidak pernah bisa berjalan dan menggunakan kedua tangannya karena cacat sejak lahir. Karena kondisinya ini dia sebagian besar hidupnya harus berbaring di tempat tidur, dan hanya kepalanya saja yang bisa bergerak dan difungsikan. Karena hanya kepalanya saja yang bergerak, dia dijuluki sebagai “Gadis Kura-Kura”.

Saat itu, Umeko hidup sebatang kara karena kedua orangtuanya telah membuangnya sejak kecil. Sehingga dia harus dirawat di Panti Asuhan Takejiro Yoshino. Pak Yoshino mendedikasikan waktunya untuk mengajari Umeko membaca dan menulis, sehingga setelah beberapa waktu, Umeko sanggup menulis dengan mulutnya seperti manusia normal menulis dengan tangannya.

Umeko sering menulis surat simpati kepada orang-orang yang menderita penyakit berkepanjangan seperti dirinya. Karena Pak Yoshino yang mengajarinya menulis beragama Kristen, maka Umeko juga ikut memeluk Kristen. Kutipan ayat favoritnya dari Injil adalah, “Menaati perintah Tuhan dengan hati yang gembira adalah suatu perolehan besar.” Dan himne favoritnya adalah “O Thou in whose presence my soul takes delight.”

Selain dilatih untuk menulis dengan mulut, Umeko juga diajari hal-hal lain menggunakan mulutnya untuk kegiatan lainnya, seperti melakukan origami (seni melipat kertas Jepang; membuat berbagai bentuk seperti burung bangau, burung walet, bunga, boks, dan bentuk-bentuk lainnya. Umeko memotong kertas dengan teknik menggunakan gunting dan jepit rambut di mulutnya; semudah orang normal memotong kertas dengan tangannya. Lalu Umeko juga sanggup membuat origami miniatur mainan, yang bahkan orang normal pun kesulitan membuatnya.

Di laci samping tempat tidurnya, Umeko menaruh sebuah boneka kecil, sekitar 8 cm. Boneka itu berpakaian cantik, dan Umeko sendiri yang membuatkan bajunya tanpa bantuan orang lain. Umeko juga lancar dalam menggunakan jarum dan benang jahit. Dia menaruh ujung jarum di antara halaman buku dan melanjutkan jahit dengan mulutnya.

Ayah angkat Umeko pernah berkata, “Menjahit adalah kemahiran Umeko yang paling baik. Dia bisa mengerjakan jahit selama berhari-hari dan dia mudah dalam menggunakan jarum, benang, gunting, dan kain-kain. Saya bahkan terkejut dia bisa menggunakan pisau cukur. Saya biasanya menyampo kepala anak-anak laki-laki saya, dan Umeko menyukur rambut mereka dengan teliti dan rapi. Sejujurnya, saya mempercayakan tugas mencukur kepala anak laki-laki saya kepada Umeko.

Nasib terakhirnya, Nona Umeko dipindah ke Panti Asuhan Kota Yokohama, di mana kemudian dia menjalani kehidupan selanjutnya hingga meninggal pada tahun 1921.

Istri Kazutoyo Yamanouchi

Kisah berikut ini untuk membuktikan bahwa di balik sosok pria yang berwibawa ada istri hebat yang mendukungnya.

Nothing is harder indeed than poverty in this life.

Pada suatu hari di musim gugur tahun 1578, di sebuah kastil Azushi di wilayah pemerintahan Lord Nobunaga Oda di provinsi Ohmi, datanglah seseorang pedagang kuda dari Sendai. Sendai dikenal sebagai daerah dengan kuda-kuda yang berkualitas bagus. Pedagang ini membawa seekor stallion (kuda jantan), yang mana harganya cukup tinggi untuk samurai-samurai di provinsi Ohmi tersebut.

Tampak depan Kastil Azuchi.

Seorang Samurai tingkat rendahan bernama Kazutoyo Yamanouchi, merasa sedih sekali karena tidak sanggup membeli kuda jantan itu, dan pulang ke rumahnya dengan wajah muram.

“Apa yang membuatmu murung?” istri samurai itu bertanya saat menyambut suaminya pulang.

“Tidak apa-apa, masalahku tidak perlu kamu ketahui” adalah balasan yang cukup dingin dari seorang suami kepada istrinya, karena pada masa feodal dianggap tabu seorang samurai curhat kepada istrinya terkait masalah pekerjaannya. Dia terlihat sangat muram, sampai akhirnya istrinya sangat khawatir dan memaksanya untuk cerita.

“Ada seorang pedagang kuda dari Sendai,” cerita Yamanouchi akhirnya pada istrinya, “dan dia membawa seekor kuda jantan yang gagah, lebih gagah daripada kuda-kuda jantan yang ada di kastil klan kita. Tapi harganya mahal sekali, sampai tidak ada satupun samurai dari klan kita yang sanggup membelinya. Dan aku ingin memiliki kuda jantan itu, karena kalau aku sudah memilikinya, aku langsung dapat naik jabatan. Tidak ada yang lebih menyengsarakan daripada kemiskinan di dunia ini, bu.”

“Berapa harga kuda jantan itu, pak?” tanya istri samurai pada suaminya dengan suara yang lemah lembut.

“Kenapa, bu, harganya sepuluh ryo emas dan kata pedagangnya itu sudah harga pas tidak bisa ditawar lagi,” kata Yamanouchi malu.

Di samping ini adalah 2 keping ryo emas.

Satu kepingnya memiliki berat sekitar 37,5 gram. Jadi, 10 ryo berarti 375 gram emas. Jika dirupiahkan sekarang (1 gram emas Rp 925.000), 10 ryo setara dengan Rp 346.875.000.

“Ini, pak, 10 ryo,” ujar istrinya ringan, “Aku telah menyimpan ini di lemari riasku selama ini.” Istrinya pun melanjutkan, “Saat ibuku memberikan ini, dia berpesan, jangan gunakan emas-emas ini kecuali untuk perihal yang menyangkut hajat hidup suamiku. Saat kita jatuh miskin, kamu pengangguran bertahun-tahun, aku tidak pernah terbersit untuk menggunakan emas ini, pesan dari ibuku selalu terngiang dan aku menahan diri. Aku bahagia, ternyata penantianku selama ini tidak sia-sia. Maka, ambillah emas ini, pak, dan belilah kuda jantan itu sebelum terlambat.”

Tempat showroom kuda jantan itu berlokasi di kastil Azuchi. Beberapa hari kemudian, Lord Oda memperhatikan seekor kuda jantan gagah yang ditunggangi oleh Yamanouchi. Lord Oda merasa gembira dan hatinya senang bukan kepalang saat dirinya mengetahui ada samurai tingkat rendahan di klannya yang sanggup membeli kuda jantan mahal itu.

“Gandakan gajinya!” perintah Lord Oda, “Bukan karena dia memiliki kuda jantan yang gagah, tetapi karena dia menyelamatkan klan ini dari image yang buruk karena tidak mampu membeli kuda. Andaikan pedagang kuda itu gagal menjual kuda jantannya, dan membawa pulang kembali kudanya ke Sendai, pasti image klan ini akan tercoreng sebagai klan yang kekayaan.”

Patung peringatan Samurai Kazutoyo Yamanouchi dan kuda jantannya.

Pada akhirnya, Yamanouchi diangkat jabatannya menjadi Daimyo Lokal yang menguasai beberapa samurai tingkat tinggi dan dia mempunyai kekuasaan teritorialnya sendiri di Provinsi Tosa.

Istri samurai Yamanouchi sedang memberi makan kuda jantannya.

Yuk Lihat Cara Memancing Ikan Ayu

Ayu siapa sih?

Ini bukan nama orang ya, melainkan nama sebuah ikan yang enak untuk disantap. Ada beberapa ahli yang mengatakan bahwa nama Ayu berarti “ikan kecil berwarna putih”, tetapi ada juga yang menyebutkan Ayu berasal dari kata ayuru yang artinya “jatuh / ikut arus”, bahwa ikan Ayu ini berenang mengikuti arus sungai.

Nama latin ikan Ayu ini adalah plecoglossus altivelis. Ikan ini mempunyai rentang hidup 1 tahun, walau ada yang bisa bertahan hingga 2-3 tahun. Maka dari itu orang Jepang menyebutnya, ikan tahunan atau toshi gyo (年魚). Banyak telurnya menetas di musim semi, anakannya bertumbuh dewasa di musim panas, melemah di musim gugur, dan mati di musim dingin.

Ikan Ayu, ikan lokal Jepang ini terkenal rasanya manis.

Beberapa ada yang mendefiniskan rasa manisnya seperti melon dan timun.

Dikisahkan di tahun 200, ada seorang Permaisuri Jingo yang menginap di desa Tamashima, Kyushu, dalam perjalanannya ke Shiragi – sebuah kerajaan di Korea – dia menangkap seekor “ikan dengan sisik yang cantik” saat memancing menggunakan umpan nasi yang diikatkan ke ujung benang pancing yang terbuat dari busana si permaisuri. Ikan itu sekarang dikenal sebagai ikan Ayu. Hingga sekarang, trik memancing ikan Ayu menggunakan nasi masih digunakan.

Ikan Ayu mempunyai sisik yang cantik dan mulut yang lebar dengan deretan gigi yang rapi. Saat dalam fase tumbuh kembangnya, ikan ini akan mengeluarkan warna hitam di punggungnya, warna putih kekuningan di perutnya, dan semburat merah di kepalanya.

Telur ikan Ayu akan menetas di sungai dan dalam pertumbuhannya ia akan menuju ke laut, dan akan kembali ke sungai pada sekitar bulan April – Mei. Saat masih anakan, ikan ini akan memakan hewan-hewan kecil, hingga ia tumbuh lebih besar ia akan mulai memakan lumut di sungai seterusnya.

Ikan ini bertelur di bulan Oktober di saat kebanyakan populasinya mati karena lelah berenang menyusuri sungai. Walau begitu, ada beberapa yang bertahan hingga musim dingin dengan mendiami sungai-sungai dalam. Orang Jepang biasanya memancing ikan ini dari awal bulan Oktober hingga akhir Mei.

Ikan Ayu bisa ditemui di perairan sungai seluruh Jepang, tapi kebanyakan sungai yang terkenal digunakan untuk memancing ikan ini adalah Sungai Tama, Sungai Nagara, Sungai Chikuma, Sungai Gokase, Sungai Iwakuni, Sungai Niyodo, dan Sungai Ohta.

Ada empat cara orang Jepang memancing ikan Ayu di sungai:

  • Pertama, dengan kail berbentuk ikan kecil dan pancing.
  • Dengan jaring dan bebek Cormorant.
  • Dengan bebek Cormorant yang sudah terlatih.
  • Dengan Tomozuri (umpan teman).

Hah? Umpan teman? Lantas ikan Ayu memakan temannya?

Jadi dalam umpan tomozuri ini, pemancing memasang beberapa jenis kail dalam 1 benang pancing. Antar kail itu di beri jarak. Di kail satu, dipasang ikan Ayu yang sudah ditangkap hidup-hidup sehingga masih bisa bergerak lincah. Kail satunya kosong, kail ini yang akan menangkap ikan Ayu baru. Harapannya ada ikan Ayu yang mengejar temannya dan mulutnya akan tersangkut kail kosong tersebut.

Ada-ada saja ya ide orang Jepang dalam memancing.

Tapi ada juga teknik lain yang lebih unik dan yang satu ini sudah menjadi daya tarik bagi wisatawan asing. Penangkapan ikan menggunakan bebek Cormorant yang sudah terlatih.

Menangkap Ayu dengan Bebek Cormorant

Penangkapan menggunakan bebek Cormorant biasanya dilakukan di malam hari. Pemancing berlayar ke tengah sungai menggunakan perahu, di atas perahu digantungkan obor untuk menarik perhatian ikan. Dan di luar perahu mereka, beberapa bebek Cormorant yang telah diikat berenang di dekat perahu mereka – leher bebek ini diikat dengan kail sehingga tidak bisa menelan ikan Ayu yang mereka tangkap.

Cormorant in Action.

Kegiatan ini telah menjadi daya tarik wisata yang unik di Jepang bagi turis-turis asing.

Bebek-bebek tadi akan langsung menyergap ikan-ikan Ayu di sungai. Bebek-bebek itu akan berenang secara zig-zag satu sama lain, sehingga pemancing yang kurang berpengalaman akan kebingungan mengurai tali para bebek yang saling bersilangan.

Setelah beberapa lama bebek itu berburu dan ikan-ikan Ayu berkumpul di kerongkongan mereka, pemancing langsung mengambil bebek itu dan mengambil ikan-ikan yang tersangkut di tenggorokan.

Agak sadis sih, tapi begitulah orang Jepang berkreasi untuk menangkap ikan Ayu tanpa menggunakan pancing.

Kisah Anjing yang Setia di Jepang

Anjing memang terkenal sebagai hewan yang setia dengan manusia, melebihi kucing.

Mari kita simak sebuah anekdot kesetiaan seekor anjing kepada majikannya.

Ada seorang samurai pergi berkelana, mencari daging hewan untuk makan malam, dia pergi berburu membawa anjingnya.

Di dalam hutan si samurai duduk di sebuah batu, dan sesaat sebelum samurai itu ingin istirahat dan tidur sebentar, anjingnya menyalak nyaring. Si samurai melihat sekeliling tapi tidak menemukan hal yang aneh.

Dia melanjutkan istirahatnya, tapi langsung diganggu dengan gonggongan anjingnya yang begitu keras. Si samurai berpikir ini anjing jadi tidak jinak karena masuk hutan dan mulai keluar kebuasannya.

Sehingga dibunuhlah anjing itu oleh si samurai.

Anehnya saat dipenggal, kepala anjing itu terpental ke atas pohon di atas samurai, tiba-tiba ada suara berdebum di belakangnya. Si samurai menoleh dan melihat ular piton sepanjang 10 meter jatuh ke tanah dengan tenggorokan yang tersumbat oleh kepala anjing itu.

Moral : dalam keadaan diujung nyawa pun, anjing tetap setia dan punya insting untuk selalu melindungi nyawa majikannya.

5 Mitos Kucing di Jepang

Hewan rumahan satu ini ternyata dalam pandangan budaya Jepang menjadi hewan yang merepresentasikan hal-hal yang mistis.

Orang Jepang sekarang ini walaupun kehidupannya telah dikelilingi oleh teknologi dan ilmu pengetahuan, tetap mempercayai adanya takhayul dari hewan bernama kucing / neko (猫).

Berikut adalah lima hal takhayul tentang kucing di Jepang:

1. Orang Jepang meyakini kucing dapat bertransfigurasi menjadi manusia dan berbicara layaknya manusia normal. Bahkan bisa membunuh manusia lain. Hiii serem!

Lihatlah cakarnya yang berlumuran darah….

Kucing jadi-jadian yang mempunyai dendam membunuh musuh manusianya, konon katanya benar-benar kejadian.

Sumber : https://yokai.fandom.com/wiki/Bakeneko.

Contoh kasusnya ada di daerah Saga. Konon katanya di sebuah klan pemimpin di Saga bernama klan Nabeshima, memiliki salah satu nenek moyang yang membunuh pemimpin klan lain – Klan Ryuuzouji. Klan tersebut mempunyai seeokor kucing yang bertransfigurasi menjadi Lady Nabeshima, yang telah dibunuhnya. Ternyata, kucing tersebut telah membunuh banyak wanita keturunan Nabeshima dan berubah wujudnya menyerupai wanita-wanita klan Nabeshima. Setelah diusut ternyata kucing pembunuh itu adalah kucing yang bertransfigurasi membalaskan dendam kesumat klan Ryuuzouji karena telah membunuh nenek moyang mereka. Kemudian klan Nabeshima mencari sosok kucing jadi-jadian ini dan menghabisinya, sehingga tidak muncul lagi pembunuhan selanjutnya.

2. Kapal Tosa Maru dan kucing.

Kucing yang mendiami sebuah kapal…

Kemudian dia kabur begitu saja beberapa hari sebelum kapal ditorpedo Jerman.

Banyak yang percaya bahwa hewan seperti kucing dan tikus akan tiba-tiba menghilang sebelum datangnya kebakaran atau bencana lainnya di tempat mereka berada. Bisa di rumah, di kantor, di apartemen, atau di atas sebuah kapal. Sebuah kapal bernama Tosa Maru mempunyai kucing peliharaan di dek nya dan menjadi kucing kesayangan para anak buah kapal. Kapal pengangkut ekspedisi dari Eropa itu berlayar dari Liverpool pada 1 Oktober 1918. Pada hari awal berlayar, kucing itu tidak ada di sisi kapal manapun. Para ABK mencari-cari kucing itu dan penasaran ke mana kucing itu kabur dan mengapa dia kabur? Ternyata kecemasan ABK memuncak setelah tahu kapalnya menjadi sasaran torpedo kapal Jerman pada 4 Oktober 1918, 3 hari setelah bertolak dari pelabuhan. Bisa jadi kucing tersebut punya firasat bahwa hal buruk akan terjadi dengan kapal yang selama ini jadi rumahnya, sehingga dia memilih untuk kabur duluan.

3. Kuburan Kucing.

Patok kuburan kucing di Omaezaki.

Kucing dipercaya mampu memahami perkataan manusia dan menjadi sahabat terbaik manusia. Ada yang meyakini kucing adalah hewan yang setia dan penolong: jika rumah majikannya berantakan karena musibah, ia akan datang menolong dan ikut membereskan. Kucing juga diyakini ada yang bisa loyal: apabila majikannya mati, maka si kucing akan mendatangi makam majikannya dan menggigit putus lidahnya hingga ia kehabisan darah dan mati. Di sebuah kuil di daerah Omaezaki, di kuil Sairin terdapat kuburan kucing yang telah mengorbankan nyawanya bertarung dengan tikus besar (:werog) yang merugikan kuil yang mengambil wujud sebagai biksu peminta-minta.

4. Kucing Pencuri.

Wujud jembatan kucing di Koshikawa, Tokyo.

Di sebuah jembatan di Koshikawa, Tokyo, ada tanda untuk mengenang kucing yang setia dengan majikannya yang amat miskin. Majikan itu menyuruh kucingnya untuk mencuri perhiasan emas, lalu saat kucing itu tertangkap dan dibunuh. Konon katanya, kucing bisa menuruti ucapan manusia, termasuk untuk melakukan kejahatan pencurian. Ckckck.

5. Pedang di atas Peti Jenazah.

Orang Jepang akan sengaja menaruh sebilah pedang di atas sebuah peti jenazah yang belum dikebumikan. Hal ini untuk mencegah kucing untuk mendekat, karena katanya listrik statis dari bulu kucing mampu menggerakkan jenazah. Hiiii.

Kucing dengan bulunya yang lebat dan halus bisa menghasilkan listrik statis.

Gimana? Ngeri ya denger cerita mistis tentang kucing di Jepang. Apakah kamu ingin berkunjung ke Jepang setelah mendengarkan cerita ini?

Aksi Akrobatik Klasik di Jepang

Tahukah kamu bahwa di Jepang juga ada atraksi akrobatik?

Kakubei Jishi atau Singa Kakubei adalah aksi akrobat jalanan yang keliling kampung di Jepang yang bertujuan untuk mencari sepeser uang. Ibaratkan kalau di Indonesia adalah mengamen, namun yang ini adalah mengamen dengan gaya. Biasanya mereka mengamen bersama grup akrobatik yang terdiri dari beberapa orang dan diiringi oleh seruling dan drum kecil khas Jepang.

Siapa saja anggotanya?

Grup akrobatik jalanan ini beranggotakan anak-anak yang belum baligh. Di jaman Jepang kuno, biasanya anggotanya anak laki-laki yang masih di bawah 10 tahun. Mereka berpakaian seragam kain khas bergaris merah-hitam, mengenakan pelindung kaki, dan rok. Rok di sini adalah elemen kostum yang menaikkan estetika seragamnya, jadi tidak bermaksud untuk menjadikan anak laki-laki yang keperempuan-perempuanan.

Mereka juga mengenakan ornamen kepala yang terbuat dari bulu ayam jantan untuk menyimbolkan surai seekor singa jantan. Dari sinilah nama Singa Kakubei berasal.

Siapa itu Kakubei?

Kakubei adalah seorang petani yang lahir pada awal abad ke-14 di sebuah desa bernama Tsukigata di Provinsi Echigo. Pada tahun 1394 dia menemukan berbagai gaya akrobatik dan memperkenalkannya ke bocah-bocah cilik di desanya. Kisahnya, Kakubei ini sukses dalam melatih dan mengembangkan gaya akrobatiknya, sehingga dirinya mampu memboyong grup akrobat didikannya untuk merantau ke desa-desa lain.

Perantauannya pun sukses besar, ketenaran grup akrobatik Kakubei tersiar kemana-mana sehingga berhasil membuat orang-orang yang mendengar nama Provinsi Echigo pasti mengingat aksi-aksi akrobatik. Sehingga dikenal dengan baik kelompok akrobatik Kakubei Jishi atau Echigo Jishi, atau singkatnya Kambara.

Dari mana inspirasi akrobatik Kakubei?

Inspirasi aksi akrobatik Kakubei ini berasal dari pertunjukan akrobatik dari India dan dari masa-masa pra sejarah Jepang. Tak disangka ternyata pengaruh budaya dan ritual India cukup mempengaruhi budaya Jepang, termasuk di gerakan-gerakan akrobatik yang menghibur.

Elemen-elemen akrobatik Kakubei ini cukup menarik dan terhitung mencapai 40 elemen gerakan, beberapa elemen yang menonjol adalah:

  • Berdiri terbalik di atas tangan atau kepala.
  • Berjalan terbalik menggunakan tangan.
  • Posisi meniru lumba-lumba, tangan di bawah menopang tubuh yang terangkat ke atas dan melengkung ke depan, seperti ornamen lumba-lumba emas yang ada di atap Kastil Nagoya.
  • Salto, bisa sekali atau salto berkali-kali.
  • Gaya perut kura-kura; pemain berposisi kayang hingga kepala berada di antara kedua betisnya.

Banyak elemen akrobat yang membutuhkan kelenturan dan fleksibilitas tubuh yang tinggi, sehingga gerakan akrobatik ini tepat untuk dilatihkan pada anak-anak sejak usia dini; di mana banyak persendiannya masih lentur.

Konon katanya, pelatih akrobatik kuno di Jepang sering meminumkan cuka ke anak didik mereka, supaya tulang mereka bisa lentur.

Beberapa gambar atraksi Singa Kakubei di era modern:

Boneka Daruma: Boneka Kayu Khas Jepang

Apa itu Daruma?

Daruma adalah boneka khas Jepang seukuran telapak tangan yang merepresentasikan sesosok pendeta Buddha yang berjubah merah. Kalau pergi ke Jepang, boneka ini sangat mudah ditemui di toko-toko mainan dan toko-toko souvenir.

Boneka ini bentuknya seperti kacang tanah yang masih utuh, tidak mempunyai tangan dan kaki. Walaupun begitu, di bagian bawahnya mempunyai pemberat sehingga saat boneka Daruma ini diolengkan, boneka ini dapat kembali ke posisinya seperti semula. Seperti filosofi habis jatuh, bangun kembali.

Karena kemampuannya yang unik ini – bisa kembali ke posisi semula setelah diolengkan – boneka ini dijuluki sebagai biksu yang pantang menyerah atau okiagari koboshi dan dijadikan simbol pembawa keberuntungan bagi orang-orang Jepang. Boneka ini dipercaya mewakili semangat yang pantang menyerah dalam menghadapi kegagalan. Gagal tujuh kali, harus bangkit untuk yang ke delapan kalinya. Semangat perjuangan ini yang berusaha diperoleh dari sosok boneka Daruma.

Di mana biasanya orang Jepang menaruh Daruma?

Orang Jepang suka menaruh boneka ini di tempat-tempat yang mudah dilihat di rumah mereka. Hal ini supaya orang Jepang mengingat tujuan / cita-citanya saat melihat boneka Daruma. Apalagi kalau melihat mata Daruma yang putih, orang Jepang dapat terlecut semangatnya untuk mencapai tujuannya tersebut. Karena kalau tujuan sudah 50% tercapai, satu mata Daruma boleh dihitamkan menggunakan tinta. Jika tujuan sudah 100% terwujud, kedua mata Daruma boleh dihitamkan.

Boneka Daruma yang masih baru.

Mempunyai pupil mata yang putih. Sengaja tidak dihitamkan oleh si pembuatnya.

Pupil mata putih ini menandakan bahwa tujuan / cita-cita kita belum tercapai. Dan diharapkan dengan kehadiran boneka Daruma, kita akan selalu ingat dengan tujuan kita dan memperjuangkan cita-cita tersebut hingga tercapai.

Jika tujuan / cita-cita telah tercapai, boneka Daruma tadi bisa dihitamkan di bagian matanya menggunakan kuas dan tinta, sehingga menjadi satu boneka yang lengkap mempunyai dua mata.